Sederet kata yang akan menjadi kalimat berarti.. *_^

Minggu, 15 September 2013

MAKALAH ILMU POLITIK | PERILAKU POLITISI


BAB I
PENDAHULUAN

1.  1 LATAR BELAKANG
Ideologi sesungguhnya Partai Politik itu adalah Kepentingan dan Kekuasaan, jadi jangan terlalu naif dalam mengamati sepak terjang partai politik, kapan pernah ada partai politik yang arah kebijakannya untuk kepentigan rakyat, dinamika politik adalah dinamika berbagai kepentingan, kepentingan politik, kepentingan partai juga kepentingan untuk meraih kekuasaan dengan memenangkan pertarungan politik. Etika politik adalah sesuatu yang langka dalam berpolitik, satu sama lain saling menyerang dan menuduh tidak memiliki etika politik, namun pada kenyataannya, tidak satu pun dari partai politik yang memiliki etika berpolitik.
Jangan terlalu mudah tertipu dengan jargon politik, ini bukanlah agitasi atau pun provokasi, tapi memang demikianlah kenyataannya yang ada didepan mata kita. Partai politik hanya pandai menjual performa, namun tidak pandai mengemasnya dengan baik, sehingga semua tipu daya dan tipu muslihatnya terhadap rakyat sangat mudah untuk dibaca. Kapan partai politik benar-benar butuh sama rakyat, ya saat mereka membutuhkan dukungan rakyat, namun ketika semua kepentingannya sudah tercapai, maka kepentingan rakyat pn diabaikan.
Pertarungan politik di Setgab koalisi layak dicermati, untuk pembelajaran agar kita lebih cerdas menempatkan diri ditengah kepentingan partai, buat apa kita terlibat secara emosional dalam melihat prilaku dan sepak terjang mereka, karena hal itu hanya buang-buang enerji saja. Tidak ada yang bisa kita nilai mana yang salah dan mana yang benar, setiap sikap dan keputusan politik yang diambil oleh sebuah partai, itu adalah bagian dari trik mereka memenangkan pertarungan dan menaikkan posisi tawar mereka dalam pertarungan, dan yang tahu hanya mereka, kalau pun rakyat menjadi korban dari semua pertikaian tersebut, itu semata karena rakyat tidak pernah berusaha untuk “Melek” terhadap politik.
Kalau partai politik dianggap hanya membodohi rakyat, itu semua karena ada yang bisa dibodohi, coba kalau rakyatnya pintar, tentu tidak akan mudah dibodohi oleh partai politik. Lima tahun sekali kita disuguhkan sandiwara demokrasi, tapi dengan senang hati kita nikmati, bahkan hanya dengan lembaran rupiah saja suara kita dengan mudah mereka beli, tapi begitu mereka menang namun hasil kerja mereka mengecewakan kita, maka serta merta kita pun mencaci maki mereka dan lupa kalau suara kita pernah mereka beli.
Jangan juga pernah berpikir bahwa berpolitik itu harus punya rasa malu dan harga diri, arena hal yang seperti itu adalah barang langka dalam dunia politik, kalau saja politisi kita punya rasa malu dan harga diri, maka rakyat Indonesia ini sudah sejahtera dan sentosa sejaka dulu kala. jangan muluk-muluk berharap pada baiknya mental dan moral politisi, selama iklim dan sistem berpolitiknya belum sehat, kadang saya terheran-heran, banyak teman-teman mau memperdebatkan sesuatu yang mereka pikirkan terlalu serius, sementara orang-orang politiknya sendiri dalam berpolitik tidaklah serius, tapi kok kita yang mengamati menjadi emosonal melihat sepak terjang dan prilaku mereka yang memang tidak beradab tersebut. Amati saja sepak terjang mereka, namun jangan terpancing secara emosional untuk memperdebatkannya.


1.  2 MAKSUD DAN TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas dari masalah-masalah yang telah di identifikasi. Selain itu juga untuk mendapatkan masukan yang kelak dapat dijadikan sebagai bahan pemikiran dalam memperbaiki kondisi pemerintahan yang pada saat ini dirasakan banyak yang telah tidak sesuai lagi dengan perkembangan masyarakat.



BAB II
PENGUMPULAN DATA

2.  1 JUDUL
    PERILAKU POLITISI

2.   2 SUMBER
Data yang dikemukakan dalam Makalah ini diperoleh melalui berbagai berbagai cara :
Pertama, dengan membaca buku-buku sumber. Kecuali buku, ada juga majalah, koran. Dan melalui media elektronik, berita dan internet.


BAB III
PEMBAHASAN

3.  1 SEBAB PERILAKU MENYIMPANG POLITISI
  1. Sikap mental yang tidak sehat
suatu sikap tidak merasa bersalah/ menyesal atas perbuatannya yang menurut masyarakat dianggap menyimpang. Contoh : profesi pelacur, maklar kasus, renternir, dll.
  1. Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
disharmonisasi dalam keluarga seperti Broken Home, salah satu anggota keluarga ada yang meninggal, dll.
  1. Pelampiasan rasa kecewa
kegagalan terhadap suatu yang diinginkan dapat menyebabkan perilaku menyimpang sebagai bentuk pelarian masalah. Contoh : narkoba, bunuh diri
  1. Dorongan kebutuhan ekonomi
kemiskinan dan ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki mendorong orang untuk menyimpang seperti mencuri, merampok, melacurkan diri.
  1. Pengaruh lingkungan dan media massa
teman sepermainan, pergaulan, media cetak dan elektronik mempengaruhi perilaku dan tindakan individu
  1. Keinginan untuk dipuji
gaya hidup glamor, sok kaya, sok modern menyebabkan orang cenderung menyimpang seperti korupsi, merampok, menjual diri
  1. Proses belajar menyimpang
interaksi dengan orang lainyang menyimpang akan mempengaruhi pikiran dan kepribadin untuk cenderung menyimpang seperti penggunaan obat, genk motor, merokok.
  1. Ketidaksanggupan menyerap nilai dan norma
ketidaksanggupan menyerap norma ke dalam kepribadian seseorang disebabkan menjalani proses sosialisasi yang salah/ tidak sempurna sehingga tidak sanggup menjalankan peran yang dikehendaki masyarakat.
  1. Adanya ikatan sosial yang berlainan
identifikasi diri dengan kelompok mempengaruhi kepribadian. Jika kelompok yang digauli menyimpang kecenderungan menyimpang lebih besar
  1. Proses sosialisasi sub kebudayaan menyimpang
suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya yang dominan. Perilaku individu dipengaruhi oleh nilai sub kebudayaan masyarakat seperti tempat tinggal dilingkungan kumuh, dekat dengan kompleks pelacuran
  1. Kegagalan dalam proses sosialisasi
keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada anak. Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan.


3.  2. 1 DEFINISI POLITISI DAN PERILAKU POLITIK
Politisi adalah nama lain dari “politikus”, itu terjemahan dari bahasa Inggris, “Politician”, artinya “pelaku politik”, yakni orang-orang yang terlibat langsung dalam kegiatan politik praktis, seperti pengurus/aktivis partai politik, para pejabat negara, orang-orang yang duduk di lembaga pemerintahan, dsb.
Atau juga bisa disebut “Politisi” itu adalah (Politisi adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, seperti aktivis parpol, anggota parlemen, menteri, dsb).
Di dalam kajian psikologi sejak lama Lewin (1965) mengartikan perilaku politik sebagai: ”participation by individual in a group decision-making process…”. Negara dan bangsa adalah suatu bentuk pengorganisasian individu-manusia dalam pengelompokan terbesar secara formal, efektif dan teridentifikasikan yang pernah dikenal dan dihasilkan oleh sejarah peradaban umat manusia hingga saat ini.
Dengan demikian, perilaku politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah perilaku yang menampilkan kegiatan pelibatan dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan yang dibuat (oleh dan) bagi kehidupan bangsa dan negara.
Terdapat pula pandangan bahwa perilaku politik adalah perilaku yang terdapat pada apa yang kita rumus-artikan sebagai dunia politik dengan segala tingkah-polah yang terjadi di dalamnya.
Dalam artian luas, tingkah laku politik merupakan tingkah laku yang akan kita temukan pada setiap individu manusia, karena saat ini hampir setiap individu manusia tentulah akan menjadi warganegara dari sesuatu negara dan bangsa. Kata negara dan bangsa pun saat ini hampir selalu disebutkan sebagai satu kata majemuk: negara-bangsa (nation state), karena peradaban modern dunia manusia saat ini memberikan tempat sangat sedikit bagi suatu negara etnik, rasial, mistis, religi atau agama. Keikusertaan atau ketaksertaan menggunakan hak suara dalam pemilihan umum dari seseorang warga adalah wujud perilaku politik dalam pengertian ini. Tentu saja banyak bentuk dan contoh lainnya yang dapat disusulkan.
Dalam artian sempit perilaku politik adalah perilaku manusia yang melakukan aktivitas di dalam lingkungan kehidupan politik (yang ruang lingkupnya bergantung kepada rumusan dan pengertian yang dibuatkan oleh masyarakat dan lingkungannya). Dalam pengertian ini, perilaku politik hanyalah perilaku  yang ditemukan pada manusia-manusia yang menjadi insan politik dan terlibat aktif  dalam proses pengambilan keputusan untuk serta oleh negara, seperti: anggota partai, parlemen, negarawan, politisi, dan lain sebagainya.
Adanya anggapan banyak ahli bahwa pada hakikatnya manusia adalah zoon politicon (insan politik) kiranya dapat mengkonvergensikan dua pengertian tersebut lebih cenderung pada artian perilaku politik dalam artian luas dan bukannya monopoli semata para politisi dan sejenisnya saja.

3.  2. 2 ETIKA POLITISI
Hampir setiap hari media massa dipenuhi berita skandal para politisi dan pejabat. Masyarakat jenuh dengan perilaku buruk para elite yang pandai mempermainkan hukum dan perasaan masyarakat. Pejabat ataupun politisi seperti mengidap skizofrenia, yaitu ketika berhadapan dengan harta dan takhta mengalami diskontinuitas dalam berpikir. Penalaran mereka tidak jalan. Di dalam pikiran mereka yang ada hanya hasrat menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Dalam konteks bangsa saat ini, mereka berkutat mencari cara untuk membelokkan sebagian anggaran negara ke kantong pribadi. Banyak wakil rakyat diadili karena korupsi. Demikian juga para pejabat, tak sedikit pula yang harus menghadapi masalah hukum. Di dalam praktik, korupsi bukan melulu persoalan sistem, tetapi lebih berkaitan pada persoalan mentalitas. Koruptor juga masuk ke dalam ranah yuridis. Mereka membuat hukum mandul. Hukum itu sendiri dibuat tidak berdaya oleh para koruptor. Kadang-kadang, keadilan tidak lebih dari soal urusan jual-beli. Artinya, mereka yang berduit bisa membeli. Akibatnya, peradilan hanya menjadi tontonan tanpa makna karena penuh kepura-puraan.

Tepatlah ungkapann Joerg Haider mengenai demagogue. Seorang demagogue memiliki kemampuan retorika yang mumpuni. Bahkan, dengan kepicikannya mereka meminjam suara rakyat untuk mengaduk-aduk perasaan warga. Dengan begitu, cara berpikir rakyat mudah diarahkan dan dibentuk sesuai dengan kepentingan sang politikus.
Para demagogue adalah gambaran politisi di negeri ini yang banyak mengabaikan prinsip etis. Maka, tidak salah bila masyarakat menilai politik di sini mengalami krisis moral yang mendorong perilaku koruptif, eksploitatif, manipulatif, dan destruktif. Kenikmatan itu selalu mengorbankan orang lain. Sekalipun sudah dibuat Undang-Undang Antikorupsi dan dibentuk Komisi Pemberantasan Korupsi, koruptor masih leluasa dan tanpa takut beraksi menggerogoti hak orang lain demi kepuasan diri.

Urgensi
Korupsi dan pembiaran terhadap persoalan-persoalan hukum adalah bukti konkret bahwa pemangku belum menginternalisasi prinsip etis sebagai acuan utama dalam menjalankan roda pemerintahan. Reputasi lebih penting ketimbang integritas. Tidak heran bila elite lihai dalam membangun politik pencitraan. Kecenderungannya, bereaksi secara verbal, namun lambat dalam bertindak. Inilah ciri pemangku yang tidak memiliki sifat-sifat melayani. Padahal, pemegang amanat rakyat sejatinya adalah "pelayan". Mereka harus melayani masyarakat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, mereka ingin dilayani. Persepsi keliru yang muncul di dalam praktik ini harus segera diubah.

Kadang-kadang mereka berdalih melayani rakyat, tetapi yang sebenarnya terjadi malahan mengambil hak rakyat. Para elite sudah waktunya kembali menggagas urgensi politik beretika. Hanya lewat jalan itu pelayanan kepada rakyat yang selama ini bengkok akan diluruskan. Elite partai, wakil rakyat, pejabat, dan pemangku lain harus menjalankan politik yang santun, beretika, dan berintegritas. Dalam bukunya, Magnis Suseno (1987:13) menyatakan bahwa etika berkaitan dengan refleksi moralitas yang berisi sekumpulan norma sebagai pegangan suatu komunitas atau masyarakat sehingga seluruh hidup dan laku manusia tidak merugikan satu sama lain. Oleh karena itu, etika adalah kumpulan nilai-nilai atau asas yang memungkinkan seseorang mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang bermartabat dan beradab.

Etika lebih dimaksudkan sebagai ilmu atau suatu sistem yang mengarahkan seseorang dalam menjalankan kewajiban sehingga perilaku atau perbuatannya tidak merugikan kepentingan orang banyak. Melalui prinsip-prinsip etis diharapkan pejabat dan politisi menjadi manusia yang lebih santun dan berintegritas dalam menjalankan amanat rakyat. Berpolitik tanpa prinsip etis tidak ubahnya berperilaku sofistis.

Kaum sofis pandai meyakinkan orang lain atau pendengar dengan mengatur argumentasi yang tidak sah. Celakanya, tidak sedikit di antara kaum sofis yang kerap menguras kantong pendengar sebagai ongkos atau bayaran atas retorita/omong kosong mereka.
Coba cermati politisi dan pejabat yang membungkus niat tidak baik dan keburukan mereka dengan argumentasi yang "kelihatannya" rasional. Masyarakat sejak awal memang dibodohi untuk mengafirmasi perilaku buruk politisi seolah-olah baik. Rakyat menerima argumentasi tanpa menyelidiki validitasnya.

Salah dan benar hanya soal bukti empiris. Akibatnya, perbuatan salah menjadi benar sejauh tidak ada bukti empirik yang menyatakan bahwa itu salah. Sebaliknya, tindakan benar bisa menjadi salah karena tidak disertai bukti konkret. Hukum yang terlalu formalistik dan lebih menekankan aspek prosedural - yaitu kepastiannya dibangun atas dasar fakta dan bukti - memiliki banyak celah yang dengan mudah dimanfaatkan para tersangka untuk meloloskan diri dari jeratan.

Penerapan prinsip-prinsip etis dalam berpolitik semakin mendesak agar muncul kesantunan bernegara dan hadir elite-elite yang berintegritas. Dengan begitu, mereka memahami berperilaku yang seharusnya. Ini harus menjadi refleksi para elite agar mampu mengoptimalkan diri di dalam pelayanan sebagai pejabat atau wakil rakyat.

3. 2. 3  PERILAKU BURUK POLITISI
Karena perilaku politik merupakan bagian dari perilaku sosial, dan perilaku sosial sangat dipengaruhi oleh sistem sosial, Zimmerman dan Pollner (1970) merumuskan bahwa: Perilaku politik= Fungsi (Sistem Sosial). Namun, para ahli psikologi yang berorientasikan Individual beranggapan bahwa karena unsur individu dan keunikannya lebih kuat pengaruhnya terhadap perilaku individu dibanding pengaruh unsur sosialnya; perilaku politik seseorang perlu lebih memberikan perhatian pada aspek-aspek yang terdapat pada dirinya dalam berperilaku politik itu.
Pandangan-pandangan di atas perlu digaris-bawahi dalam menelusuri pengertian dan dinamika terjadinya perilaku politik menyimpang.
Dalam pemahaman umum, psikologi mengaitkan unsur kesehatan mental dalam merumuskan dan memahami tingkah-laku menyimpang sebagai tingkah-laku yang dirasakan sebagai mengganggu dirinya (complain) atau mengganggu lingkungan atau orang lain (sign atau symptom).
Dengan demikian, perilaku politik menyimpang dapat diartikan sebagai perilaku politik yang menimbulkan gangguan mental bagi dirinya sendiri atau orang lain; atau perilaku politik yang dirasakan sebagai gangguan atau mengganggu diri sendiri atau orang lain. Perilaku politik korupsi, kolusi, nepotisme jelas merupakan perilaku menyimpang karena dirasakan sebagai gangguan atau menimbulkan gangguan pada orang lain; bukan semata-mata karena bertentangan atau melawan hukum. Hukum memang dibuat untuk memungkinkan diberikannya punishment terhadap sesuatu yang menimbulkan gangguan psikis maupun fisik terhadap manusia. Reward and punishment dikenal dalam piskologi sebagai instrumen yang dibutuhkan dalam proses pembentukan tingkah laku dan kepribadian.
Perilaku politik menyimpang juga dirasakan sebagai gangguan oleh yang bersangkutan sendiri karena menimbulkan dampak tekanan (stress), tension, maladjustment, dan lain sebagainya, terutama karena reaksi diri dan lingkungan terhadapa perilakunya tersebut. Suatu proses rekrutmen yang keliru dalam kepemimpinan partai sehingga menempatkan seseorang berkecerdasan rendah sebagai pimpinan partai, sementara masalah politik yang dihadapinya memerlukan kecerdasan tinggi untuk mampu meyakinkan masyarakat terhadap gagasan dan keinginan partainya; akan mengakibatkannya mengalami gangguan psikis karena ketakmampuannya itu. Di lain pihak masyarakat akan merasa terganggu pula karena masalah yang dihadapinya tidak mampu diatasi dengan cerdas dan memadai sehingga berakibat penderitaan padanya.
 
3. 2. 4 PERILAKU POLITISI YANG BAIK
Joko Widodo menjadi sosok teladan yang patut ditiru pejabat publik lainnya di Indonesia, bukan malah tindakan Jokowi yang memiliki integritas tinggi dan moralitas yang baik terhadap rakyatnya, itu sebaliknya dicibir pejabat lainnya, bahkan sampai dihina, dibodoh-bodohkan, apalagi dikatakan untuk pencitraan. Misal, tindakan Jokowi menggunakan mobil dinas dari hasil karya anak bangsa Ini adalah contoh nyata, bahwa dia mencintai produk Indonesia, bukan munafik seperti pejabat negara lainnya. Jokowi menunjukkan integritasnya bahwa setiap pernyataan yang muuncul dari seorang pejabat negara harus sama dengan aksi nyata di lapangan.
Sosok Jokowi ini dapat membawa perubahan bagi bangsa Indonesia, di tengah para pemimpin bangsa yang hidup dalam hedonisme dan materialisme. Sifat-sifat dan karakter kepemimpinan Jokowi harus dijadikan contoh bagi para pemimpin bangsa Indonersia lainnya. Kepemimpinan model Jokowi ini sangat didambakan seluruh masyarakat Indonesia, sekaligus memunculkan harapan bahwa ternyata di Indonesia masih ada sosok pemimpin yang bisa dipercaya untuk memangku jabatan secara amanah dan jujur. Kini Jokowi menjadi tokoh dambaan rakyat yang mengharap perubahan.
Jokowi seorang birokrat yang kreatif, responsif, merakyat dan tentu saja disenangi masyarakat. Bagi masyarakat kota Solo sendiri, kredibilitas dan kapabilitas Jokowi sudah tidak mereka ragukan lagi. Sebab Jokowi sudah kedua kalinya dipilih sebagai Walikota Solo. Yang signifikan dari keterpilihannya yaitu suara rakyat Solo yang diberikan kepada Jokowi dalam Pilkada periode kedua, nyaris sempurna. Yaitu mencapai 96%.
Sorotan terhadap Jokowi cukup fenomenal. Sorotan lebih banyak bersifat apresiasi. Bukan hujatan. Sorotan tidak lagi menyindir para pejabat pemerintah yang gemar melakukan korupsi tetapi sekadar mengatakan, tirulah cara Walikota Solo.
Dampak dari apresiasi itu, Jokowi sangat layak menduduki jabatan yang lebih tinggi semisal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Seninya, walau pun Jokowi diuji, disanjung dan dianggap sebagai sosok yang mampu merestorasi Jakarta sebagai ibukota NKRI, tetapi Jokowi tetap merendah. Jokowi adalah potret pemimpin masa kini yang tidak membayar media untuk pencitraannya.
Tapi apa pun sorotan dan apresiasi terhadap Jokowi, substansinya, adalah rakyat Indonesia saat ini merasakan adanya kekosongan pemimpin yang bisa diteladani. Apresiasi terhadap Jokowi merupakan potret paradoksal dari banyak kejadian di tanah air.
Lihat saja di Papua, Papua Barat, Sampang dan Kaimantan Tengah, rumah para pemimpin (Gubernur dan Bupati) di daerah itu dibakar massa secara beramai-ramai. Tragisnya tidak ada yang membela para pemimpin itu. Aparatur kepolisian yang seharusnya menjaga ketertiban masyarakat, tidak mampu mencegah emosi massa yang berbondong-bondong membakar rumah para pemimpin di daerah itu.
Sorotan terhadap Jokowi terjadi di saat para pemimpin formal baik yang ada di eksekutif, legislatif dan yudikatif, terus berlomba melakukan korupsi, pembohongan kepada publik dan memprioritaskan kepentingan pribadi. Pemimpin yang ada di tingkat nasional mulai dari Presiden, tidak lagi dianggap sebagai tokoh yang bisa diteladani.
Semakin banyak Indonesia memiliki tokoh fenomenal seperti Jokowi, semakin baik bagi masa depan bangsa. Sebab kelak, ketika Indonesia harus mencari dan memilih pemimpin, tidak akan ada kesulitan. Indonesia bisa memilih pemimpin yang terbaik di antara yang terbaik. Bukan yang terbaik di antara yang terburuk. Indonesia perlu stok pemimpin yang kreatif dan dicintai rakyat seperti Jokowi.
Benar apa yang dikatakan oleh Syahrul Kirom, salah seorang mahasiswa alumnus Program Master Filsafat, UGM, bahwa bangsa Indonesia saat ini memang telah mengalami krisis kepemimpinan, krisis teladan yang baik dan miskin moral para pejabat negaranya. Mereka banyak menggunakan fasilitas negera, untuk kehidupan yang mewah demi memenuhi hawa nafsu dan keinginannya. Kebanyakan pejabat negara tidak mampu mengontrol diri dan terjerumus ke gaya hidup mewah. Sikap sederhana mulai hilang dalam nalar pikiran pejabat publik.
Krisis moral itu muncul akibat kejahatan yang dilakukan pemimpin bangsa. Mereka memahami bahwa kejahatan seperti korupsi, perampokan dan peristiwa amoral lainnya telah dianggap biasa. Hati nurani manusia seolah-olah tidak digunakan, hati nurani telah mati. Padahal tindakan manusia itu telah menyalahi kodrat dan tatanan normatif dengan nilai-nilai kemanusiaan. Krisis moral melanda pemimpin bangsa seperti praktik ketidakjujuran atau kebohongan publik dan praktik korupsi, melainkan juga sebagai upaya mengikis sikap opurtunis, krisis kepercayaan yang sesungguhnya telah menghancurkan peradaban bangsa Indonesia.
Praktik korupsi sampai sekarang ini masih terus berjalan, mulai dari dilakukan menteri, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR/DPRD, pejabat birokrasi, pejabat perbankan, kepabeanan dan pegawai pajak beramai ramai melakukan korupsi. Itu menunjukkan adanya dominasi pertimbangan yang tidak etis di kalangan pejabat. Degradasi moral telah melanda pemimpin bangsa, karena mereka tidak mampu menjalankan prinsip-prinsip kejujuran dan tidak memiliki integritas moral yang tinggi.
Krisis keteladanan, pejabat negara biasanya hanya berpidato secara normatif melalui pernyataan-pernyataan yang tanpa makna. Pejabat publik tidak pernah turun ke lapangan melihat kondisi nyata penderitaan dan kemiskinan rakyat.
Jokowi adalah walikota Solo yang telah memberikan contoh dalam kinerja untuk turun langsung di hadapan rakyatnya dan berdialog untuk mendengarkan keluh kesah rakyatnya, sehingga bisa membuat kebijakan yang langsung menyentuh kepentingan mereka.
Dalam konteks persoalan bangsa Indonesia, tentang kekuasaan yang sudah semestinya digunakan untuk mengabdi kepada rakyat Indonesia. Ini sebenarnya panggilan hati nurani pemimpin. Akan tetapi, hati nurani telah diputarbalikkan. Manusia sering kali menyalahgunakan kekuasaan hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Hal ini tentunya melanggar dari suara hati, dengan begitu hati nurani berperan dalam menuntut bagaimana manusia berpikir dalam mengambil tindakan yang baik dan buruk. Hati nurani adalah sumber kewajiban yang menuntut manusia ke jalan kebenaran dan kebaikan.
Perilaku baik dalam bentuk kesederhanaan, kejujuran, kedisiplinan telah dicontohkan oleh Jokowi sebagai pejabat publik yang penuh dengan nilai-nilai moralitas, memperhatikan betul nasib rakyatnya demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh kepentingan rakyat Indonesia. Dengan demikian, cara dan sistem kinerja yang contohkan Jokowi ini adalah upaya membangun moralitas dan kesederhanaan dari seorang pejabat pejabat. Sangat baik jika apa yang dilakukan Jokowi dalam menjalankan kinerjanya bisa diwujudkan oleh pejabat negara lainnya.
Semoga saja dengan munculnya pejabat atau pemimpin daerah seperti Jokowi, dapat menyadarkan semua pihak untuk melakukan restrospeksi. Harapan yang lebih tinggi, semoga saja pemimpin sekaliber Jokowi dapat lahir di berbagai tempat di Indonesia.

3. 2. 5 SOLUSI AGAR PERILAKU POLITISI BAIK
1. Tawadlu dalam berdemokrasi
Tawadlu’ adalah salah satu ajaran Islam dalam bermasyarakat. Sikap ini sering diidentikkan dengan sikap rendah hati, tapi bukan rendah diri. Tawadlu adalam kebalikan dari takabur dan kesombongan. Jokowi selalu menunjukkan kita sikap tawadlu, setidaknya selama berkampanye. Jokowi selalu berkata, kita ini orang kecil yang berhadapan dengan para raksasa. Ketika memenangkan quick count, Jokowi menyampaikan permintaan maaf kepada calon petahana, hal yang mungkin tidak harus dilakukannya karena semua yang dia lakukan masih dalam koridor yang sah.
2. Keburukan tidak perlu dibalas dengan keburukan
Itulah sikap Jokowi ketika diserang dengan  isu SARA oleh saingan politiknya. Jokowi menanggapi isu itu dengan memperlihatkan sikap bahwa dirinya adalah orang yang konsisten dengan agamanya dan sama sekali tidak punya niat buruk terhadap agama. Jokowi tidak melawan serangan isu SARA dengan statemen-statemen yang bisa memperkeruh suasana. Yang lebih menarik lagi, Jokowi mampu meredam pendukungya untuk tidak melawan serangan isu SARA dengan tindakan ceroboh yang mungkin bisa menjadi counter attack terhadap dirinya.
Sebenarnya serangan isu SARA ini memang tidak tertuju secara khusus kepada dirinya yang muslim, namun kepada wakilnya Ahok yang non muslim. Isu yang dihembuskan cukup keras, seperti jika Jokowi menang Jakarta akan dijadikan pusat kristenisasi, pasangan Jokowi menerima sumbangan dana besar dari Vatikan, pemimpin non muslim tidak layak memimpin wilayah yang mayoritas muslim dll. Isu itu disebarkan melalui berbagai media jejaring sosia, selebaran dan sms bahkan di kalangan terpelajar sekalipun. Nyatanya dengan tidak mengkonter isu tersebut dengan statemen-statemen ceroboh, justru menjadikan isu tersebut secara alami dinilai negatif oleh masyarakat. Ini pelajaran luar biasa, bagi yang mencoba mengangkat kembali isu SARA dalam percaturan politik negeri ini.
3.  No to political arrogances
Pendidikan agar kita berpotik yang santun tanpa arogansi sangat kita rasakan selama proses kampanye pasangan Jokowi berlangsung.  Sepertinya ini juga tercermin dari para pendukungnya, meskipun kita tahu mayoritas pendukungnya adalah dari simpatisan PDI Perjuangan. Selama ini paradigma kita tentang simpatisan partai berlambang kepala banteng ini adalah arogansi dan kekerasan. Namun sangat luar biasa, ketika mereka berkampanye di bawah komando Jokowi, mereka berubah total menjadi simpatisan yang santun dan memperhatikan rakyat kecil. Justru kita menyaksikan arogansi dan sikap tidak santun dari simpatisan partai-partai yang mengusung pesaingnya.
4. Pemimpin yang baik adalah yang bersahaja
Selama ini yang kita saksikan dari para politisi kita adalah sikap hobby glamor, bermewah-mewahan dan seperti berperilaku layaknya para penghuni menara gading. Jokowi telah menunjukkan kita sosok pemimpin yang bersahaja, mau naik kendaraan umum, makan makanan rakyat kecil,  memakai pakaian yang biasa dipakai rakyat kecil. Itulah sejatinya sikap pemimpin yang benar, yang bersahaja dan tidak menunjukkan kepada rakyatnya sikap glamor dan mewah-mewahan, sementara masih banyak rakyat yang menderita terbelenggu kemiskinan. Alangkah baiknya sekiranya anggota DPR kita yang suka berfoya-foya, jalan-jalan dengan uang rakyat, mau memahami pelajaran ini dan mengamalkannya.
5. No to politik uang
Pelajaran penting yang juga ditunjukkan Jokowi kepada kita adalah bahwa politik uang adalah perilaku politik yang buruk dan berbahaya. Kita semua tahu di negeri kita, politik uang hampir merupakan hal yang biasa. Mulai tingkat pemilihan kepada desa, politik uang ini selalu kita saksikan. Penyakit ini tidak hanya menjangkiti para politisi saja, tapi juga rakyat kita. Masih banyak rakyat kita yang tahunya memilih seseorang untuk menjadi pajabat publik manakala ada uang. Terkadang politisinya sudah siap menghindari politik uang, tapi budaya politik di masyarakat akhirnya memaksa mereka melakukan itu. Itu mirip lingkaran rantai baja yang sulit diputuskan untuk menghentikan politik uang ini.
Jokowi dan Ahok telah menunjukkan kepada kita semua, bahwa tradisi politik buruk  yang ada di masyarakat kita tersebut ternyata bisa dipatahkan.  Without political money is possible now. Jokowi mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa politisi bisa mengikuti  pemilihan umum secara bijak, tanpa memakai cara kotor politik uang. Kalau di DKI itu bisa terwujud, selayaknya kita semua mulai membudayakan politik tanpa uang dalam pemilukada yang lain. Masyarakat juga harus mulai belajar bahwa politik uang ini hanya akan menghasilkan para pemimpin yang korup karena uang yang mereka keluarkan untuk membeli suara selama pemilihan, harus mereka kembalikan ketika menduduki jabatan. Kalau gaji dan tunjangan jabatan yang didudukinya ternyata tidak mencukupi untuk membayar kembali biaya tadi, maka satu-satunya jalan adalah melalui korupsi.
6. Dalam demokrasi, pemimpin adalah palayan rakyat
Satu pesan penting yang berhasil disampaikan oleh Jokowi selama kampanye adalah bahwa pemimpin dalam konteks demokrasi adalah pelayan rakyat. Ini luar biasa, karena berseberangan dengan paradigma kepemimpinan yang telah mengakar di masyarakat kita yang cenderung feodal. Kita menyaksikan dan merasakan bahwa sangat sulit melakukan pergeseran makna pemimpin dari yang dilayani menjadi yang melayani. Sudah lama reformasi birokrasi mencoba merubah paradigma tersebut, namun belum membuah hasil yang signifikan. Kita masih sering melihat para pejabat tinggi yang berperilaku bak raja diraja, minta dihormati dan dilayani. Jokowi mendidik kita bahwa dalam sistem demokrasi, pemimpin digaji dari uang rakyat, maka tugasnya adalah melayani rakyat, mensejahterakan  rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukan kepentingan pribadinya dan kepentingan kelompoknya.
7. Jangan Mubazir dalam berkampanye
Mubazir, pemborosan dan hura-hura adalah sifat tercela. Agama Islam mengajarkan itu. Jokowi mendidik kita untuk merubah perilaku mubazir dan pemborosan dalam berkampanye dengan menghindari kampanye dengan membuat baleho,  spanduk dan attribut kampanye yang sepesifik dengannya. Sebaliknya Jokowi mengganti segala attribut tadi dengan baju kotak-kotak tanpa nama dan gambar. Jokowi juga menghindari kampanye melalui panggung dengan parade orasi dan hiburan yang menghabiskan biaya tidak sedikit.
Ini sebuah pendidikan dari seorang yang sangat cerdas berpolitik agar kita dan para politisi mulai meninggalkan budaya kampanye  hura-hura dan berbiaya mahal. Selama ini yang kita pahami, kampanye massa adalah seperti itu membuat baleho, spanduk, kaos bergambar calon dan attribut lainnya yang menghabiskan biaya tidak sedikit dan menjadi sampah setelah masa kampanye berakhir. Dengan memakai baju kotak-kotak, itu akan tetap bisa dipakai sebagai pakaian sehari-sehari karena tanpa tanda attribut. Dipakai ke masjid pun boleh juga karena tidak ada gambar-gambarnya. Jadi ada manfaat  riel yang didapat  oleh yang membelinya atau menggunakannya.

BAB IV
PENUTUP

4.  1 KESIMPULAN
Perilaku politik tiap individu berbeda-beda berdasarkan faktor yang mempenngaruhinya dan lingkungan tempat individu itu berada . Partisipasi politik dari masing-masing individu sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan politik ditempatnya tnggal . Tinggi-rendahnya tingkat partisipasi politik didasari oleh banyak faktor .

4.  2 SARAN
·       Para politisi harus mempunyai perilaku yang baik, tidak mementingkan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan rakyat yang telah memilihnya.
·       Tidak sombong dan angkuh bersikap merakyat dan membela rakyat kecil
·       Bijaksana dalam mengambil setiap keputusan yang ada dan mementingkan untuk tujuan rakyat
  
BAB V
REFRENSI

http://ariyantiratna.blog.fisip.uns.ac.id/2010/12/14/perilaku-dan-partisipasi-politik/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar