BAB
I
PENDAHULUAN
1. 1
LATAR BELAKANG
Sampah adalah segala bentuk benda baik
yang bisa terurai atau pun tidak, yang tidak digunakan lagi oleh manusia. Dari
pengertian ini bisa disimpulkan bahwa sampah tidak terbatas benda baru atau
lama. Ketika sebuah benda tidak lagi disimpan atau digunakan maka ia bisa
disebut sebagai sampah. Dan biasanya dibuang ke tempat pembuangan sampah,
dibakar atau ditumpuk ditempat pembuangan sementara.
Sampah merupakan permasalahan
lingkungan yang tidak pernah usai. Semakin modern kehidupan manusia, maka
kuantitas sampah yang dihasilkan pun semakin meningkat. Hal itu terlihat dari
kecenderungan meningkatnya produksi sampah di daerah perkotaan seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk. Diperkirakan, rata-rata setiap orang per hari
bisa menghasilkan 1-2 Kg sampah.
Secara umum dikenal dua jenis sampah,
yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik yaitu jenis sampah
yang bisa diurai oleh mikroorganisme pengurai. Contohnya sisa-sisa sayur, buah,
dedaunan dan sejenisnya. Sampah organik dikenal juga dengan istilah sampah
basah. Jenis yang kedua yaitu sampah anorganik. Sampah anorganik yaitu jenis
sampah yang sulit atau tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme pengurai,
sehingga berpotensi merusak lingkungan. Contohnya sampah plastik, beling, seng,
kaleng dan sejenisnya. Sampah anorganik dikenal juga dengan istilah sampah
kering.
Sampah jika tidak dikelola dengan baik
berpotensi merusak lingkungan. Mengakibatkan pencemaran baik pada tanah, air
atau pun udara. Akan tetapi jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah-sampah
tersebut masih memungkinkan untuk dimanfaatkan baik dalam bentuk aslinya
ataupun melalui proses pengolahan atau daur ulang.
Sampah
merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
Sampah dapat berasal dari kegiatan manusia maupun dari proses alam seperti
jatuhnya daun dari pohon sehingga daun tersebut berserakan di tanah. Sampah
dibedakan menjadi beberapa jenis salah satunya yaitu berdasarkan sifatnya yang
terdiri dari Sampah organik - dapat diurai (degradable) dan Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable). Sampah organik adalah
sampah yang mudah membusuk dan bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) serta
dapat terurai sehingga dapat dirubah menjadi kompos. Kompos dapat berasal dari
bahan-bahan seperti daun-daunan kering, ranting pohon, jerami, alang-alang,
sisa makanan, rumput, sayuran, buah-buahan dan ikan yang membusuk. Sampah
anorganik merupakan sampah yang tidak dapat membusuk dan tidak dapat terurai
seperti plastik, kaleng, kayu, kertas, kaca, kardus, botol dan gelas minuman.
Sampah
merupakan permasalahan yang sangat besar di berbagai negara salah satunya yaitu
di negara kita Indonesia. Di Indonesia sampah merupakan permasalahan yang belum
dapat dituntaskan dengan baik, karena semakin hari sampah semakin banyak dan
bertumpuk dimana-mana. Bahkan dijalan raya sekalipun tidak jarang ditemukan
sampah-sampah yang berserakan.
Untuk dapat
menanggulangi sampah-sampah tersebut dapat dilakukan pengolahan seperti membuat
kompos atau mendaur ulang sampah tersebut menjadi sebuah kerajinan yang dapat
bermanfaat lagi. Sampah-sampah tersebut harus dibedakan terlebih dahulu
berdasarkan sifatnya yaitu sampah organik dan anorganik. Dari sampah anorganik
kita dapat membuat berbagai kerajinan yang lebih menarik dan dapat memiliki
daya jual seperti membuat tas dari plastik bekas minyak goreng, tirai dari
gelas minuman plastik, tempat pensil dari kaleng, dll.
1. 2
VISI ORGANISASI
MEWUJUDKAN DAERAH YANG BERSIH, HIJAU,
TEDUH, DAN RAMAH LINGKUNGAN.
Penjelasan
makna :
Makna
visi ini bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, untuk terciptanya
lingkungan yang bersih bebas dari masalah sampah, untuk melatih masyarakat
untuk memanfaatkan barang bekas atau sampah.
1. 3
MISI ORGANISASI
1. Menciptakan
produktivitas pada masyarakat
2. Mensosialisasikan
pentingnya kebersihan lingkungan
3. Menciptakan
lingkungan yang bersih bebas dari sampah
4. Mewujudkan
lingkungan yang asri dan nyaman
1. 4
TUJUAN ORGANISASI
1. Untuk
menciptakan lapangan kerja
2. Agar
dapat memanfaatkan sampah menjadi kerajinan dan pupuk yang bermanfaat bagi
masyarakat
3. Terwujudnya
lingkungan yang diharapkan oleh masyarakat yaitu lingkungan yang bersih dan
nyaman
4. Pemanfaatan
sampah sebagai nilai ekonomis yang dapat dihasilkan dari daur ulang.
5. Meningkatkan fungsi dari Ruang Terbuka
Hijau
6. Meningkatkan pemulihan mutu lingkungan
BAB
II
KONDISI
ORGANISASI
2. 1
IDENTIFIKASI KEKUATAN ORGANISASI
Kekuatan Organisasi
(organizational
strengths) adalah keahlian dan kemampuan yangmenyebabkan suatu organisasi mampu
menyusun dan mengimplementasikan strateginya. Perusahaan memanfaatkan kemampuan
yang ada dan kekuatan namanya untuk meluncurkan suatu operasi baru. Strategi
yang berbeda memerlukan keahlian dan kemampuan yang berbeda. Strategi yang
berbeda seperti itu memerlukan kekuatan organisasi yang berbeda. Analisis SWOT membagi kekuatan organisasi menjadi
duakategori: kekuatan umum dan kompetensi unggulan. Bekerja dalam
keanekaragaman juga mendiskripsikan bagaimana beberapa perusahaan secara
efektif menggunakan keanekaragaman untuk membangun kekuatan organisasi.
Kekuatan Organisasi Umum.
Kekuatan
Umum (common strength) adalah kemampuan organisasional
yang dimiliki oleh sejumlah perusahaan yang bersaing. Keseimbangan persaingan
(competitive parity) muncul ketika sejumlah besar perusahaan yang bersaingdapat
mengimplementasikan strategi yang sama. Dalam situasi tersebut, pada umumnya organisasi
hanya mencapai tingkat kinerja rata-rata.
Kompetensi Unggulan.
Kompetensi
unggulan adalah suatu kekuatan yang dimiliki olehhanya sejumlah kecil perusahaan yang saling bersaing. Kompetensi
unggulan jarang ditemukan diantara serangkaian pesaing. Organisasi yang
mengeksploitasi kompetensiunggulan mereka sering kali memperoleh suatu
keunggulan kompetitif dan mencapaikinerja ekonomi diatas normal.
Peniruan Kompetensi Unggulan.
Peniruan
strategi (strategic imitation) adalah praktek duplikasi kompetensi keunggulan perusahaan lain dan oleh karena itu
membutuhkan pengimplementasian strategi yang berharga. Suatu
organisasi yang memiliki kompetensiunggulan
dan mengeksploitasinya dengan menggunakan strategi yang dipilihnya
dapatdiharapkan untuk memperoleh suatu keunggulan kompetitif dan kinerja
ekonomi diatasnormal.
Akan tetapi
keberhasilannya akan mendorong organisasi lain untuk menirukeunggulan tersebut. Suatu kompetensi keunggulan mungkin tidak dapat ditiru
karenatiga alasan. Pertama, akuisisi atau pengembanagan dan kompetensi unggulan
tersebutmungkin bergantung pada situasi sejarah yang unik yang tidak dapat
ditiru organisasilain. Kedua, kompetensi unggulan mungkin sulit untuk ditiru
karena sifat karakternyatidak diketahui atau tidak
dipahami oleh perusahaan pesaing. Ketiga, kompetensi unggulan dapat menjadi sulit ditiru jika perusahaan didasarkan pada
fenomena sosialyang kompleks, seperti kerja tim organisasi atau
budaya organisasi.
2. 2
KEUNGGULAN ORGANISASI
Ø Partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan sampah dan adanya organisasi pengelolaan sampah
akan memberikan dampak sosial yang positif. Adanya interaksi antar individu
dalam masyarakat akan memberikan pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat.
Ø Dampak
lain yang dapat memberikan motivasi tambahan bagi masyarakat dalam pengelolaan
sampah adalah aspek ekonomi, pendapatan dan penjualan kompos serta dari
penjualan sampah anorganik yang dapat dijual kembali, akan dapat menambah pendapatan
klompok.
Ø Lingkungan
akan menjadi bersih dan sehat karena semua sampah dapat termanfaatkan.
Masyarakat akan mendapat keuntungan secara tidak langsung dari penurunan biaya
pengobatan anggota keluarga yang sakit akibat sanitasi lingkungan yang buruk.
Ø Jumlah
sampah yang harus diangkut menuju TPA menjadi berkurang, hal ini akan dapat
memperpanjang umur TPA. Dengan demikian tidak lagi di pusingkan untuk mencari
lahan TPA yang baru.
2.3 KELEMAHAN
ORGANISASI
·
Akibat kurang adanya partisipasi masyarakat,
maka petugas kebersihan yang dikerahkan menjadi tidak berimbang antara jumlah
petugas dengan jumlah sampah yang harus ditangani.
·
Pengelolaan dan teknis operasional yang
banyak ditemui adalah masalah pemilahan sampah rumah tangga, yang masih kurang
tuntas. Artinya masih ada sampah organik dan anorganik yang terbuang ke
bantaran sungai maupun terbuang ke TPS.
·
Problem dalam kepengurusan adalah masalah
kaderisasi, bagaimana mencari pengurus baru yang memiliki kapasitas dan
integritas.
·
Biaya operasional pengangkutan sampah dari
TPS menuju TPA yang harus terus menerus meningkat seiring dengan kenaikan harga
bahan bakar dan ditambah lagi perlu biaya operasional untuk merawat
armada-armada pengangkut sampah.
·
Kapasitas TPA yang terbatas, sementara jumlah
sampah setiap harinya terus menerus masuk ke TPA dan hanya sebagian kecil yang
direduksi pemulung.
2.4 BEKERJASAMA
DENGAN ORGANISASI LAIN
v Bekerja sama dengan Dinas Pertanian
untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat yang bergerak dalam bidang
pertanian tentang manfaat dan keunggulan kompos.
v Bekerja sama dengan pengusaha tanaman
hias yang ada di Kota Surabaya untuk menggunakan hasil pengomposan.
v Bekerjasama dengan produsen untuk
membeli sampah-sampah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di sektor
industri. Mengadakan kerjasama dengan pihak swasta yang bergerak dibidang daur
ulang
§
sampah
seperti pengepul, bandar lapak, dan pabrik untuk mendapatkan harga
pasar yang wajar terhadap produk sampah kering yang menjadi bahan daur ulang
2.5 PERENCANAAN
ORGANISASI UNTUK MENCAPAI TUJUAN
ü Melalui
interaksi dan komunikasi, perencana bersama masyarakat membantu
mengidentifikasi masalah, dan merupakan suatu proses yang mempersiapkan
seperangkat keputusan untuk melakukan suatu tindakan di masa depan.
ü Perencanaan
dapat berfungsi sebagai alat untuk menentukan langkah-langkah yang dapat
diprediksi dan diproyeksikan apa yang sebaiknya dilakukan dalam rangka mencapai
tujuan.
ü Perencanaan
bersama masyarakat harus bermakna bahwa masyarakat peserta perumusan harus bisa
menyepakati hasil yang diperoleh, baik saat itu maupun berkelanjutan.
ü Untuk
memperkuat penjelasan tentang manfaat pengelolaan sampah rumah tangga,
pemerintah mengajak tokoh-tokoh masyarakat atau wakil-wakil masyarakat, kader-kader
lingkungan untuk melakukan studi banding ke daerah yang telah berhasil
melaksanakan pengelolaan sampah rumah tangga.
ü Kader-kader
lingkungan kemudian berbicara dengan masyarakat. Selain menjelaskan tentang
manfaat dan pengalaman daerah lain, juga menjaring masukan.
ü Prinsip
partisipasi hanya akan terwujud secara sehat, jika apa yang dibahas merupakan
hal yang dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat.
ü Hasil
disempurnakan untuk menjadi konsep perencanaan yang disepakati bersama antara
pemerintah dan masyarakat.
2.6
PERHITUNGAN RENCANA KERJA
Secara nyata
pada aspek ini dapat dirumuskan program kerja yang akan dilaksanakan seperti :
a. Program Jangka Pendek (tahunan), meliputi :
§ Optimalisasi
pengoperasian TPA dan pembangunan TPA baru bila dibutuhkan;
§ Pembangunan
prasarana guna mengamankan lokasi calon TPA baru;
§ Pembangunan
incinerator skala kecil di kelurahan-kelurahan;
§ Pengembangan
program 3R (reuse, recycle, reduce);
§ Pengolahan
sampah terpadu dengan pendekatan zero waste;
§ Penyusunan
studi paradigma baru pengelolaan sampah dari cost center menjadi profit
center; dan
b. Program Jangka Menengah (3 tahunan), meliputi :
o
Pelaksanaan program sinergis sampah dan pasir;
o
Pembangunan calon TPA sebagai lokasi pengolahan sampah
dengan tehnologi
o
Pelaksanaan pemilahan sampah di dalam kawasan atau
tempat penampungan sementara (TPS);
o
Pelaksanaan kerjasama dengan pihak swasta lainnya
dengan penekanan kepada tehnologi yang mengolah sampah organik dan pembangunan
unit-unit daur ulang;
o
Pengembangan korporasi pengolahan sampah dan kerjasama
antar daerah yang lebih luas;
o
Pelaksanaan evaluasi masterplan (pola induk)
sampah pada daerah yang lebih luas/regional
o
Pelaksanaan kampanye massal mengenai 3R (reuse,
recycle dan reduce) kepada masyarakat;
3R =
(menggunakan kembali, memakai lagi/mendaur ulang, mengurangi )
o
Pelaksanaan evaluasi terhadap kelembagaan instansi
teknis pengelola sampah;
o
Pelaksanaan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan
retribusi sampah dalam rangka
meningkatkan perolehan retribusi; dan
o
Penyusunan dan sosialisasi perangkat-perangkat hukum
yang berkaitan dengan tata cara pengelolaan kebersihan.
c. Program Jangka Panjang (5
tahunan), meliputi :
§ Pendirian
korporasi pengelola sampah antar daerah;
§ Pelaksanaan
pemilahan sampah sejak di sumber sampah;
§ Pengembangan
home composting di masyarakat;
§ Pengembangan
incinerator skala besar;
§ Pengembangan
kampanye massal mengenai 3R (reuse, recycle dan reduce) kepada
masyarakat;
§ Pelaksanaan
restrukturisasi instansi teknis pengelola sampah;
§ Pelaksanaan
penegakan hukum secara tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran kebersihan;
2.7 SISTEM
KELEMBAGAAN DAN ORGANISASI
Organisasi dan manajemen
pengelolaan sampah merupakan faktor untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
dari sistem pengelolaan sampah. Organisasi dan managemen juga mempunyai peranan
pokok dalam menggerakkan, mengaktifkan dan mengarahkan sistem pengelolaan
sampah dengan ruang lingkup bentuk institusi pola organisasi, personalia serta menagemen
(perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian) untuk jenjang strategis, taktis
maupun operasional.
2.8
MANFAAT PENGOLAHAN SAMPAH
Sampah
merupakan masalah yang memerlukan perhatian lebih agar bermanfaat bagi
lingkungan. Salah satu cara agar sampah dimanfaatkan adalah dengan cara
pengolahan sampah yang baru. “Manfaat pengolahan sampah ada dua macam, yaitu
manfaat langsung dan manfaat tidak langsung”. Manfaat langsung yaitu manfaat yang
berhubungan langsung dengan warga sekitar lingkungan, seperti kegiatan
keseharian warga. Dan manfaat tidak langsung yaitu manfaat yang berhubungan
dengan kondisi lingkungan pengolahan sampah. Kondisi lingkungan tersebut juga
berdampak kepada warga sekitar.
a.
Manfaat Langsung
Manfaat langsung pengolahan sampah
terpadu skala kawasan terdiri atas penghasilan dari penjualan kompos dan
pemanfaatan daur ulang sampah komersil. Hasil kompos dan daur ulang sampah
tersebut dijual oleh warga sekitar untuk kegiatan rumah tangga dan memperbaiki
lingkungan sekitar. Kompos adalah hasil pemanfaatan dari pengolahan sampah.
Kompos berguna untuk memperbaiki
struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Tanaman
yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik dan tanah menjadi gembur.
Kompos dapat dibuat dari sampah organik sepeti daun, tangkai sayur dan daging.
Daur ulang sendiri artinya mengurangi tingkat kebutuhan akan sampah,
menggunakan kembali sampah-sampah yang telah ada dan mendaur ulang sampah yang
telah terpakai. Sampah yang dapat di daur ulang seperti kertas dan plastik.
Kita tidak harus mengubur atau membakar sampah kita. Jika sampah plastik
dikubur, tidak akan terurai selamanya. Dan jika dibakar akan menambah polusi
udara. Maka dari itu kegiatan daur ulang perlu digalakkan lebih jauh.
b.
Manfaat Tidak Langsung
Selain manfaat langsung pengolahan
sampah juga memiliki manfaat tidak langsung. Manfaat tak langsung (lingkungan)
adalah nilai kualitas lingkungan yang dihasilkan dengan adanya usaha tersebut.
Lingkungan tempat pengolahan sampah akan jauh lebih sehat, indah, dan terhindar
dari sumber penyakit. Lingkungan tersebut cocok sekali untuk menanam tanaman
produktif seperti tanaman mangga, pisang, cabai, dan lain-lain. Nantinya
tanaman-tanaman itu akan menghasilkan buah yang dapat dinikmati warga di
lingkungan sekitar.
c.
Meningkatkan Ekonomi
Sampah
yang diolah atau di daur ulang dapat menjadi satu di antara sumber pendapatan.
Pada saat sekarang ini permasalahan sampah selalu menjadi “momok” hampir di
seluruh kota yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan secara infrastruktur
dan manajemen, sampah belum ditangani sesuai dengan konsep dari pembangunan
yang berkelanjutan. Permasalahan sampah kota membuat lingkungan menjadi kumuh.
Lingkungan kumuh dapat menyebabkan masyarakat mudah terserang wabah penyakit.
Hingga sekarang pemerintah belum sepenuhnya menangani permasalahan sampah
dengan baik. Permasalahan sampah yang volumenya menumpuk setiap tahunnya
disebabkan oleh pertambahan penduduk yang pesat. Jumlah penduduk yang
pesat dapat mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Volume sampah banyak diproduksi
dari kegiatan masyarakat. Pola konsumsi masyarakat memberikan kontribusi
negatif yang berdampak terhadap kesemrautan permasalahan sampah.
Permasalahan
sampah akan teratasi jika partisipasi masyarakat lebih peka terhadap pengelohan
sampah. “pengolahan sampah anorganik, dapat memanfaatkan sampah yang tidak
berguna menjadi berguna dan benilai ekonomi tinggi, sehingga dapat meningkatkan
ekonomi keluarga. Dengan adanya pengolahan sampah di tingkat keluarga, akan
membantu mengurangi kejenuhan dirumah dengan mengunakan waktu luang mereka
untuk mengelola daur ulang sampah. Selain itu untuk keluarga yang menganggur
akan mendapat pekerjaan yang menghasilkan uang yaitu dari pengolahan sampah.
Hasil dari olahan sampah bisa dijual dengan harga yang relative sesuai dengan tingkat
kerumitannya. Penjualan dari hasil pengolahan sampah dapat meningkatkan
penghasilan.
Pengolahan
sampah selain dapat meningkatkan penghasilan juga membantu pelestarian
lingkungan. Kelestarian lingkungan dapat menunjang pembangunan yang berwawasan
lingkungan. Lingkungan yang bersih akan menjadikan pikiran-pikiran masyarakat
lebih tenang. Selain berpengaruh terhadap psikis, masyarakat juga memperoleh
banyak dampak positifnya terutama terhadap kesehatan mereka.
Pengelolaan
sampah yang baik, akan memberikan manfaat kesehatan dan ekologi, di samping
juga manfaat ekonomi. Adanya bantuan pelatihan membantu warga untuk
mensukseskan pengolahan sampah, menghasilkan karya-karya yang bernilai ekonomi
dan kreativ. Melalui pelatihan tersebut, warga dapat meningkatkan kerja dalam
pengolaan sampah rumah tangga. Selain itu, pelatihan juga dapat mengubah
tindakan dan persepsi tentang sampah yang tidak berguna.
Kami
berharap peserta pelatihan mampu meningkatkan kemampuannya dalam mengolah
limbah rumah tangga untuk menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Dengan
demikian, dapat menciptakan lingkungan yang bersih, aman, lestari, dan indah.
Peningkatan ekonomi warga didapatkan dari pemilahan sampah kering dan basah.
Maka dari pemilahan sampah yang sudah didaur ulang, siap untuk dijual.
Frekuensi penjualan/pengambilan sampah tidak tentu, sesuai dengan kesiapan
barang yang terkumpul.
2.9 PRODUK YANG DIHASILKAN DARI SAMPAH
1. Kerajinan
·
Barang
seni seperti vas bunga, lukisan, miniatur dan patung, tempat tissue, tong
sampah, payung, dll.
·
Fashion
seperti tas, sandal, jas hujan, perhiasan, dompet dan lain-lain.
Bahan
baku yang cocok digunakan adalah barang-barang bekas dari bahan plastik, logam,
dan kertas sehingga mudah untuk diolah. Bahan baku diambil dari tempat
penampungan barang bekas di tiap daerah atau bisa juga didapat dari penjual
barang bekas apabila stok bahan baku mengalami kekurangan.
2. Pupuk kompos
Pupuk
kompos merupakan pilihan utama dalam pengolahan sampah organik. Pupuk kompos
ini memanfaatkan sampah makhluk hidup seperti dedaunan, batang pohon dan
lain-lain sebagai bahan baku. Dalam skala rumah tangga, industri kompos ini
sangat potensial untuk dikembangkan karena sistem pengolahannya cukup
sederhana. Industri ini cocok diterapkan untuk rumah tangga yang mempunyai
lahan yang ditumbuhi tanaman dan lahan kosong berupa tanah yang dapat dibuat
lubang untuk tempat pemrosesan sampah menjadi kompos. Apabila tidak mempunyai
lahan yang cukup, pemrosesan bahan baku dapat dilakukan di dalam kotak yang
bisa diatur aerasinya. Kebutuhan bahan baku juga bisa didapat dari hasil sampah
dedaunan warga sekitar.
Agar
kompos yang dihasilkan berkualitas baik perlu dilakukan fermentasi menggunakan
bakteri. Bakteri ini bisa didapatkan di pasaran. Untuk menekan biaya penggunaan
bakteri, ada alternatif lain yaitu dengan membuat sendiri. Bakteri ini akan
tumbuh di medium yang sesuai. Seperti yang membuat sendiri bakteri dengan
menciptakan medium yang cocok untuk bakteri seperti air yang dicampur dengan
tapai dan gula, air kencing kelinci, dan air rendaman gedebok. Air campuran
bakteri ini cukup dituangkan pada lubang yang telah berisi sampah dedaunan
kemudian bakteri dalam lingkungan anaerob akan menguraikan sampah
tersebut menjadi pupuk setelah kira-kira membutuhkan waktu selama tiga bulan.
Waktu tiga bulan ini sangat lama untuk sebuah industri yang komersial. Untuk
mempercepat produksi dapat dilakukan dengan menggunakan wadah atau kotak yang
besar yang diletakkan di atas tanah. Sampah yang dihasilkan dalam waktu yang
berbeda ditempatkan dalam wadah menurut ketinggian dalam wadah tersebut. Secara
otomatis, sampah yang sudah berumur tua terletak di bagian paling bawah. Oleh
karena itu, di bagian bawah wadah tersebut di buat pintu yang digunakan untuk
mengambil sampah yang sudah menjadi kompos. Waktu pengambilan produk kompos
sesuai dengan rentang waktu pemasukan sampah daun. Jumlah produk yang
dihasilkan bergantung pada kapasitas wadah yang digunakan. Wadah yang digunakan
harus tertutup sehingga tidak ada kontak antara sampah yang sedang difermentasi
dengan udara. Hal ini dikarenakan bakteri yang dipakai untuk memfermentasi
sampah adalah bakteri anaerob sehingga kerja bakteri akan optimal pada kondisi
yang minim udara.
Kompos
yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk keperluan sendiri maupun untuk tujuan
komersial. Apabila kompos ini dikomersialkan, perlu proses lebih lanjut agar
kualitas pupuk yang dihasilkan bisa bersaing dengan pupuk yang ada di pasaran.
Proses tersebut adalah penyaringan. Pupuk yang telah dipanen dari wadah
pemrosesan disaring menggunakan ayak. Tujuan penyaringan ini adalah untuk
memisahkan kompos dengan sampah-sampah daun yang belum terurai sehingga
didapatkan kompos yang bertekstur halus menyerupai tanah. Tekstur ini
diperlukan untuk menjaga kepadatan tanah sehingga akar tanaman bisa melekat
dengan kuat dan tidak mudah tumbang.
3. Reuse (Memanfaatkan
Kembali Barang Bekas dengan Memodifikasi)
Industri
ini memanfaatkan barang bekas atau sampah yang bisa diproses menjadi produk
yang sama dengan barang bekas atau sampah tersebut seperti kertas dan plastik.
Produk yang dihasilkan harus sama persis dengan produk semula sehingga dapat
digunakan kembali sesuai fungsinya. Pemilihan bahan baku ini didasarkan pada
kapasitas mesin yang digunakan. Untuk barang logam, dalam pemrosesannya
membutuhkan mesin yang besar sehingga tidak cocok diterapkan untuk skala rumah
tangga. Metode pemrosesan meliputi pengumpulan bahan baku, pemilahan bahan
sesuai jenis sampah berdasarkan komposisi kimia bahan dan pengolahan. Untuk
skala rumah tangga pengumpulan bahan baku dapat dilakukan dengan cara yang sama
dengan cara yang diterapkan pada industri kerajinan, hanya saja bahan logam
tidak digunakan sebagai bahan baku.
BAB
III
LANGKAH
DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
3.1 STRATEGI
YANG KONGKRIT DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
Meski merupakan hal yang relatif mudah (tetapi
mendorong), analisis dan riset diperlukan dalam menerjemahkan pernyataan misi
organisasi pengusaha ke dalam sebuah strategi. Organisasi-organisasi pengusaha
di negara maju dan berkembang menunjukan bahwa kinerja organisasi-organisasi
pengusaha di negara-negara maju ternyata lebih baik. Meskipun demikian, kurang
dari 50% organisasi-organisasi tersebut memiliki strategi bisnis, dan hanya
sepertiganya memiliki tujuan tertulis berdasarkan strategi yang dimilikinya.
Proses yang akan digunakan dalam pencapaian tujuan ada beberapa pilihan yang direkomendasikan oleh sejumlah penulis atau
konsultan bisnis. Anda dapat memutuskan sendiri atau
mengikuti saran tersebut. Kerangka yang disarankan dalam panduan ini relative
sederhana tetapi efektif. Proses ini umumnya dimulai dari penyusunan pernyataan
misi dan menggunakannya sebagai dasar untuk menulis dan menyetujui rencana
bisnis, berdasarkan kajian atas kebutuhan anggota, analisis kompetisi dan
analisis SWOT (strength, weaknesess, Opportunity, Threat) –Kekuatan,
Kelemahan, Peluang dan Ancamanbaik secara internal maupun eksternal.
Berikutnya, Rencana strategis diubah menjadi tujuan-tujuan dan rencana-rencana
kerja. Akhirnya, sebuah proses disusun untuk mengkaji kemajuan yang ada.
Menurut analisis
SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunity, Threat) dalam pengolahan sampah :
1. Strength
(Kekuatan)
·
Sistem pengelolaan sampah terpadu dimulai dari
pewadahan, pengangkutan, prmilahan, pengomposan, pengolahan/daur ulang, sampai
PLTS.
·
Networking yang sudah terjalin dengan berbagai
organisasi atau perusahaan pengelola sampah.
·
Recycling center sebagai tempat penukaran barang bekas
juga menjual aneka produk dan jasa.
·
Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk
operasional mesin produksi.
·
Sistem pengomposan yang cepat jadi
·
Perubahan image pemulung
·
Pendidikan kesehatan dan motivasi bagi pemulung
·
Lingkungan yang menjadi bersih dan indah.
2. Weaknesess (Kelemahan)
·
Kurang modal
Kekurangan modal dapat diatasi dengan meminjam modal
dari kerabat, angel investor, atau bank.
·
Belum mempunyai pengalaman sebelumnya
Hal ini telah di atasi dengan cara membentuk tim ahli
dan bekerjasama dengan banyak orang yang telah berpengalaman dalam bidang
pengolahan sampah.
3. Opportunities
(Peluang)
·
Volume dan ragam sampah yang semakin hari semakin
banyak
·
Harga barang bekas yang semakin mahal
·
Harga pupuk urea yang semakin mahal dibandingkan pupuk
kompos
·
Harapan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang
lebih baik
·
Masyarakat menginginkan pekerja sampah dengan image
dan attitude yang baik
4. Threats (Ancaman)
·
Masyarakat belum sadar dan paham akan kegunaan recycle
center. Oleh karena itu perlu di lakukan tindakan berikut :
1. Menggencarkan
branding serta pemasaran above dan below the line sehingga mereka akan aware.
2. Memberikan pengertian
kepada mereka akan keuntungan yang dapat mereka peroleh apabila mereka bekerja
sama dengan kita.
3. Membangun
image perusahaan
·
Produksi sampah yang bisa di daur ulang ternyata tidak
memenuhi target karena di ambil pemulung lepas. Untuk menyiasati hal tersebut,
perlu dilakukan hal berikut :
1. Melakukan
pendekatan langsung dengan pemilik rumah atau wakil kompleks supaya mereka
hanya memberikan sampah pada kita.
2. Memberikan
pengawasan yang lebih terhadap sampah-samaph tersebut.
3.2 TAHAPAN DALAM PENCAPAIAN
TUJUAN
Pemerintah
melakukan sosialisasi implementasi untuk menyuarakan program pengelolaan sampah
rumah tangga, agar pengelolaan sampah rumah tangga menjadi kegiatan masyarakat.
Dalam hal ini pemerintah dapat bekerja sama dengan stakeholder.
o
Bersama stakeholder, membentuk
organisasi kepengurusan dan program kerja.
o
Pemerintah menfasilitasi kegiatan sosialisasi
implementasi yang dilakukan oleh pengelola, dalam hal ini pengelola dapat
bekerja sama dengan stakholder.
o
Bersama dengan stakeholder, pengelola
memberikan arahan kepada
o
masyarakat agar mereka mampu dan dapat
mengelola sampahnya dengan benar.
o
Masyarakat melakukan pemilahan sampah
ditingkat sumber timbulan, dan sesuai dengan mekanisme yang sudah ditentukan
oleh pengelola.
o
Masyarakat melakukan pengomposan dari sampah
organik yang berasal dari rumah tangga, dan melakukan pemilahan sampah
anorganik untuk dijadikan barang yang bermanfaat.
3.3 HAMBATAN DALAM
PENCAPAIAN TUJUAN
- Peningkatan jumlah sampah di perkotaan yang sangat cepat/eksponensial seiring dengan cepatnya pertambahan jumlah penduduk serta disebabkan oleh pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan.
- Publik, yaitu masyarakat, dunia usaha dan juga pemerintah yang relative masih rendah tingkat kesadaran dan pengetahuannya dalam mengelola sampah.
- Permasalahan tempat pengolahan atau pembuangan sampah yang selain terbatas juga menimbulkan kerawanan social serta berdampak terhadap nilai dan fungsi lingkungan hidup.
- Pendekatan pengelolaan yang cenderung masih mengedepankan end of pipe (kumpul-angkut-buang)
BAB
IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Sampai sekarang, pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan
paradigma lama: kumpul–angkut–buang. Source reduction (reduksi mulai
dari sumbernya) atau pemilahan sampah tidak pernah berjalan dengan baik.
Meskipun telah ada upaya pengomposan dan daur ulang, tapi masih terbatas dan
tidak sustainable. Pembakaran sampah dengan insinerator pun dianggap hanya
memindahkan masalah ke pencemaran udara. Regulasi pengelolaan sampah pun masih
diatur secara parsial dan sektoral, belum adanya Undang – undang yang dipahami
secara integral yaitu keterkaitannya dengan aspek lain seperti tata ruang,
sosial politik, kesehatan, kemiskinan, peluang usaha , investasi,
ketenagakerjaan, teknologi dan lingkungan hidup.
Adanya sampah merupakan suatu konsekuensi dari aktifitas manusia, setiap
aktifitas manusia pasti akan menyebabkan buangan atau sampah. Jumlah volume
sampah akan berimbang dengan tingkat konsumsi kita terhadap material yang
digunakan sehari hari. Demikian pula dengan jenis sampah
sangat tergantung dengan material yang kita konsumsi. Oleh karena itu
pengelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari pengelolaan gaya hidup
masyarakat.
Sistem pengelolaan sampah terpadu
adalah sebuah sistem yang menerapkan prinsip dasar dari sistem
manajemen lingkungan (Environmental Management System / EMS) akan dapat
berjalan dengan baik jika mampu mengoptimalkan beberapa hal seperti : Keterlibatan (stakeholders), Kesetaraan dan Kemitraan
(Equal Partnership), Transparansi (Transparency), Kesetaraan
Kewenangan (Sharing Power / Equal Powership), Kesetaraan Tanggung Jawab
(Sharing Responsibility), Pemberdayaan (Empowerment) dan Kerjasama
(Cooperation).
DAFTAR
PUSTAKA
tulisan mbak berliana sangat berguna buat saya. terima kasih ya..
BalasHapusiyaaa masama.. :)
Hapusbagus sekali nih, bisa kurangin kuota sampah negara nih...
BalasHapushttp://landongobatherbal.com/obat-herbal-penyakit-migren/