Sederet kata yang akan menjadi kalimat berarti.. *_^

Minggu, 08 September 2013

PERENCANAAN KERJA ORGANISASI PENGOLAHAN SAMPAH

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG
Sampah adalah segala bentuk benda baik yang bisa terurai atau pun tidak, yang tidak digunakan lagi oleh manusia. Dari pengertian ini bisa disimpulkan bahwa sampah tidak terbatas benda baru atau lama. Ketika sebuah benda tidak lagi disimpan atau digunakan maka ia bisa disebut sebagai sampah. Dan biasanya dibuang ke tempat pembuangan sampah, dibakar atau ditumpuk ditempat pembuangan sementara.
Sampah merupakan permasalahan lingkungan yang tidak pernah usai. Semakin modern kehidupan manusia, maka kuantitas sampah yang dihasilkan pun semakin meningkat. Hal itu terlihat dari kecenderungan meningkatnya produksi sampah di daerah perkotaan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Diperkirakan, rata-rata setiap orang per hari bisa menghasilkan 1-2 Kg sampah.
Secara umum dikenal dua jenis sampah, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik yaitu jenis sampah yang bisa diurai oleh mikroorganisme pengurai. Contohnya sisa-sisa sayur, buah, dedaunan dan sejenisnya. Sampah organik dikenal juga dengan istilah sampah basah. Jenis yang kedua yaitu sampah anorganik. Sampah anorganik yaitu jenis sampah yang sulit atau tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme pengurai, sehingga berpotensi merusak lingkungan. Contohnya sampah plastik, beling, seng, kaleng dan sejenisnya. Sampah anorganik dikenal juga dengan istilah sampah kering.
Sampah jika tidak dikelola dengan baik berpotensi merusak lingkungan. Mengakibatkan pencemaran baik pada tanah, air atau pun udara. Akan tetapi jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah-sampah tersebut masih memungkinkan untuk dimanfaatkan baik dalam bentuk aslinya ataupun melalui proses pengolahan atau daur ulang.
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah dapat berasal dari kegiatan manusia maupun dari proses alam seperti jatuhnya daun dari pohon sehingga daun tersebut berserakan di tanah. Sampah dibedakan menjadi beberapa jenis salah satunya yaitu berdasarkan sifatnya yang terdiri dari Sampah organik - dapat diurai (degradable) dan Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable). Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk dan bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) serta dapat terurai sehingga dapat dirubah menjadi kompos. Kompos dapat berasal dari bahan-bahan seperti daun-daunan kering, ranting pohon, jerami, alang-alang, sisa makanan, rumput, sayuran, buah-buahan dan ikan yang membusuk. Sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat membusuk dan tidak dapat terurai seperti plastik, kaleng, kayu, kertas, kaca, kardus, botol dan gelas minuman.

Sampah merupakan permasalahan yang sangat besar di berbagai negara salah satunya yaitu di negara kita Indonesia. Di Indonesia sampah merupakan permasalahan yang belum dapat dituntaskan dengan baik, karena semakin hari sampah semakin banyak dan bertumpuk dimana-mana. Bahkan dijalan raya sekalipun tidak jarang ditemukan sampah-sampah yang berserakan.

Untuk dapat menanggulangi sampah-sampah tersebut dapat dilakukan pengolahan seperti membuat kompos atau mendaur ulang sampah tersebut menjadi sebuah kerajinan yang dapat bermanfaat lagi. Sampah-sampah tersebut harus dibedakan terlebih dahulu berdasarkan sifatnya yaitu sampah organik dan anorganik. Dari sampah anorganik kita dapat membuat berbagai kerajinan yang lebih menarik dan dapat memiliki daya jual seperti membuat tas dari plastik bekas minyak goreng, tirai dari gelas minuman plastik, tempat pensil dari kaleng, dll.


1. 2 VISI ORGANISASI
MEWUJUDKAN DAERAH YANG BERSIH, HIJAU, TEDUH, DAN RAMAH LINGKUNGAN.
Penjelasan makna :
Makna visi ini bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, untuk terciptanya lingkungan yang bersih bebas dari masalah sampah, untuk melatih masyarakat untuk memanfaatkan barang bekas atau sampah.

1. 3 MISI ORGANISASI
1.    Menciptakan produktivitas pada masyarakat
2.    Mensosialisasikan pentingnya kebersihan lingkungan
3.    Menciptakan lingkungan yang bersih bebas dari sampah
4.    Mewujudkan lingkungan yang asri dan nyaman

1. 4 TUJUAN ORGANISASI
1.    Untuk menciptakan lapangan kerja
2.    Agar dapat memanfaatkan sampah menjadi kerajinan dan pupuk yang bermanfaat bagi masyarakat
3.    Terwujudnya lingkungan yang diharapkan oleh masyarakat yaitu lingkungan yang bersih dan nyaman
4.    Pemanfaatan sampah sebagai nilai ekonomis yang dapat dihasilkan dari daur ulang.
5.    Meningkatkan fungsi dari Ruang Terbuka Hijau
6.    Meningkatkan pemulihan mutu lingkungan


BAB II
KONDISI ORGANISASI
2.  1 IDENTIFIKASI KEKUATAN ORGANISASI
Kekuatan Organisasi
(organizational strengths) adalah keahlian dan kemampuan yangmenyebabkan suatu organisasi mampu menyusun dan mengimplementasikan strateginya. Perusahaan memanfaatkan kemampuan yang ada dan kekuatan namanya untuk meluncurkan suatu operasi baru. Strategi yang berbeda memerlukan keahlian dan kemampuan yang berbeda. Strategi yang berbeda seperti itu memerlukan kekuatan organisasi yang berbeda. Analisis SWOT membagi kekuatan organisasi menjadi duakategori: kekuatan umum dan kompetensi unggulan. Bekerja dalam keanekaragaman juga mendiskripsikan bagaimana beberapa perusahaan secara efektif menggunakan keanekaragaman untuk membangun kekuatan organisasi.

Kekuatan Organisasi Umum.
Kekuatan Umum (common strength) adalah kemampuan organisasional yang dimiliki oleh sejumlah perusahaan yang bersaing. Keseimbangan persaingan (competitive parity) muncul ketika sejumlah besar perusahaan yang bersaingdapat mengimplementasikan strategi yang sama. Dalam situasi tersebut, pada umumnya organisasi hanya mencapai tingkat kinerja rata-rata.

Kompetensi Unggulan.
Kompetensi unggulan adalah suatu kekuatan yang dimiliki olehhanya sejumlah kecil perusahaan yang saling bersaing. Kompetensi unggulan jarang ditemukan diantara serangkaian pesaing. Organisasi yang mengeksploitasi kompetensiunggulan mereka sering kali memperoleh suatu keunggulan kompetitif dan mencapaikinerja ekonomi diatas normal.

Peniruan Kompetensi Unggulan.
Peniruan strategi (strategic imitation) adalah praktek duplikasi kompetensi keunggulan perusahaan lain dan oleh karena itu membutuhkan pengimplementasian strategi yang berharga. Suatu organisasi yang memiliki kompetensiunggulan dan mengeksploitasinya dengan menggunakan strategi yang dipilihnya dapatdiharapkan untuk memperoleh suatu keunggulan kompetitif dan kinerja ekonomi diatasnormal.

Akan tetapi keberhasilannya akan mendorong organisasi lain untuk menirukeunggulan tersebut. Suatu kompetensi keunggulan mungkin tidak dapat ditiru karenatiga alasan. Pertama, akuisisi atau pengembanagan dan kompetensi unggulan tersebutmungkin bergantung pada situasi sejarah yang unik yang tidak dapat ditiru organisasilain. Kedua, kompetensi unggulan mungkin sulit untuk ditiru karena sifat karakternyatidak diketahui atau tidak dipahami oleh perusahaan pesaing. Ketiga, kompetensi unggulan dapat menjadi sulit ditiru jika perusahaan didasarkan pada fenomena sosialyang kompleks, seperti kerja tim organisasi atau budaya organisasi.

2.  2 KEUNGGULAN ORGANISASI
Ø  Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dan adanya organisasi pengelolaan sampah akan memberikan dampak sosial yang positif. Adanya interaksi antar individu dalam masyarakat akan memberikan pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat.
Ø  Dampak lain yang dapat memberikan motivasi tambahan bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah aspek ekonomi, pendapatan dan penjualan kompos serta dari penjualan sampah anorganik yang dapat dijual kembali, akan dapat menambah pendapatan klompok.
Ø  Lingkungan akan menjadi bersih dan sehat karena semua sampah dapat termanfaatkan. Masyarakat akan mendapat keuntungan secara tidak langsung dari penurunan biaya pengobatan anggota keluarga yang sakit akibat sanitasi lingkungan yang buruk.
Ø  Jumlah sampah yang harus diangkut menuju TPA menjadi berkurang, hal ini akan dapat memperpanjang umur TPA. Dengan demikian tidak lagi di pusingkan untuk mencari lahan TPA yang baru.

2.3      KELEMAHAN ORGANISASI
·           Akibat kurang adanya partisipasi masyarakat, maka petugas kebersihan yang dikerahkan menjadi tidak berimbang antara jumlah petugas dengan jumlah sampah yang harus ditangani.
·           Pengelolaan dan teknis operasional yang banyak ditemui adalah masalah pemilahan sampah rumah tangga, yang masih kurang tuntas. Artinya masih ada sampah organik dan anorganik yang terbuang ke bantaran sungai maupun terbuang ke TPS.
·           Problem dalam kepengurusan adalah masalah kaderisasi, bagaimana mencari pengurus baru yang memiliki kapasitas dan integritas.
·           Biaya operasional pengangkutan sampah dari TPS menuju TPA yang harus terus menerus meningkat seiring dengan kenaikan harga bahan bakar dan ditambah lagi perlu biaya operasional untuk merawat armada-armada pengangkut sampah.
·           Kapasitas TPA yang terbatas, sementara jumlah sampah setiap harinya terus menerus masuk ke TPA dan hanya sebagian kecil yang direduksi pemulung.


2.4      BEKERJASAMA DENGAN ORGANISASI LAIN
v  Bekerja sama dengan Dinas Pertanian untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat yang bergerak dalam bidang pertanian tentang manfaat dan keunggulan kompos.
v  Bekerja sama dengan pengusaha tanaman hias yang ada di Kota Surabaya untuk menggunakan hasil pengomposan.
v  Bekerjasama dengan produsen untuk membeli sampah-sampah yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di sektor industri. Mengadakan kerjasama dengan pihak swasta yang bergerak dibidang daur ulang
§  sampah seperti pengepul, bandar lapak,  dan pabrik untuk mendapatkan harga pasar yang wajar terhadap produk sampah kering yang menjadi bahan daur ulang

2.5      PERENCANAAN ORGANISASI UNTUK MENCAPAI TUJUAN
ü  Melalui interaksi dan komunikasi, perencana bersama masyarakat membantu mengidentifikasi masalah, dan merupakan suatu proses yang mempersiapkan seperangkat keputusan untuk melakukan suatu tindakan di masa depan.
ü  Perencanaan dapat berfungsi sebagai alat untuk menentukan langkah-langkah yang dapat diprediksi dan diproyeksikan apa yang sebaiknya dilakukan dalam rangka mencapai tujuan.
ü  Perencanaan bersama masyarakat harus bermakna bahwa masyarakat peserta perumusan harus bisa menyepakati hasil yang diperoleh, baik saat itu maupun berkelanjutan.
ü  Untuk memperkuat penjelasan tentang manfaat pengelolaan sampah rumah tangga, pemerintah mengajak tokoh-tokoh masyarakat atau wakil-wakil masyarakat, kader-kader lingkungan untuk melakukan studi banding ke daerah yang telah berhasil melaksanakan pengelolaan sampah rumah tangga.
ü  Kader-kader lingkungan kemudian berbicara dengan masyarakat. Selain menjelaskan tentang manfaat dan pengalaman daerah lain, juga menjaring masukan.
ü  Prinsip partisipasi hanya akan terwujud secara sehat, jika apa yang dibahas merupakan hal yang dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat.
ü  Hasil disempurnakan untuk menjadi konsep perencanaan yang disepakati bersama antara pemerintah dan masyarakat.


2.6 PERHITUNGAN RENCANA KERJA
Secara nyata pada aspek ini dapat dirumuskan program kerja yang akan dilaksanakan seperti :
a. Program Jangka Pendek (tahunan), meliputi :
§  Optimalisasi pengoperasian TPA dan pembangunan TPA baru bila dibutuhkan;
§  Pembangunan prasarana guna mengamankan lokasi calon TPA baru;
§  Pembangunan incinerator skala kecil di kelurahan-kelurahan;
§  Pengembangan program 3R (reuse, recycle, reduce);
§  Pengolahan sampah terpadu dengan pendekatan zero waste;
§  Penyusunan studi paradigma baru pengelolaan sampah dari cost center menjadi profit center; dan
b. Program Jangka Menengah (3 tahunan), meliputi :
o    Pelaksanaan program sinergis sampah dan pasir;
o    Pembangunan calon TPA sebagai lokasi pengolahan sampah dengan tehnologi
o    Pelaksanaan pemilahan sampah di dalam kawasan atau tempat penampungan sementara (TPS);
o    Pelaksanaan kerjasama dengan pihak swasta lainnya dengan penekanan kepada tehnologi yang mengolah sampah organik dan pembangunan unit-unit daur ulang;
o    Pengembangan korporasi pengolahan sampah dan kerjasama antar daerah yang lebih luas;
o    Pelaksanaan evaluasi masterplan (pola induk) sampah pada daerah yang lebih luas/regional
o    Pelaksanaan kampanye massal mengenai 3R (reuse, recycle dan reduce) kepada masyarakat;
3R = (menggunakan kembali, memakai lagi/mendaur ulang, mengurangi )
o    Pelaksanaan evaluasi terhadap kelembagaan instansi teknis pengelola sampah;
o    Pelaksanaan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan retribusi sampah dalam  rangka meningkatkan perolehan retribusi; dan
o    Penyusunan dan sosialisasi perangkat-perangkat hukum yang berkaitan dengan tata cara pengelolaan kebersihan.


c. Program Jangka Panjang (5 tahunan), meliputi :
§   Pendirian korporasi pengelola sampah antar daerah;
§   Pelaksanaan pemilahan sampah sejak di sumber sampah;
§   Pengembangan home composting di masyarakat;
§   Pengembangan incinerator skala besar;
§   Pengembangan kampanye massal mengenai 3R (reuse, recycle dan reduce) kepada masyarakat;
§   Pelaksanaan restrukturisasi instansi teknis pengelola sampah;
§   Pelaksanaan penegakan hukum secara tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran kebersihan;
2.7 SISTEM KELEMBAGAAN DAN ORGANISASI
Organisasi dan manajemen pengelolaan sampah merupakan faktor untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna dari sistem pengelolaan sampah. Organisasi dan managemen juga mempunyai peranan pokok dalam menggerakkan, mengaktifkan dan mengarahkan sistem pengelolaan sampah dengan ruang lingkup bentuk institusi pola organisasi, personalia serta menagemen (perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian) untuk jenjang strategis, taktis maupun operasional.

2.8 MANFAAT PENGOLAHAN SAMPAH
Sampah merupakan masalah yang memerlukan perhatian lebih agar bermanfaat bagi lingkungan. Salah satu cara agar sampah dimanfaatkan adalah dengan cara pengolahan sampah yang baru. “Manfaat pengolahan sampah ada dua macam, yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung”.  Manfaat langsung yaitu manfaat yang berhubungan langsung dengan warga sekitar lingkungan, seperti kegiatan keseharian warga. Dan manfaat tidak langsung yaitu manfaat yang berhubungan dengan kondisi lingkungan pengolahan sampah. Kondisi lingkungan tersebut juga berdampak kepada warga sekitar.
a. Manfaat Langsung
Manfaat langsung pengolahan sampah terpadu skala kawasan terdiri atas penghasilan dari penjualan kompos dan pemanfaatan daur ulang sampah komersil. Hasil kompos dan daur ulang sampah tersebut dijual oleh warga sekitar untuk kegiatan rumah tangga dan memperbaiki lingkungan sekitar. Kompos adalah hasil pemanfaatan dari pengolahan sampah.
Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik dan tanah menjadi gembur. Kompos dapat dibuat dari sampah organik sepeti daun, tangkai sayur dan daging. Daur ulang sendiri artinya mengurangi tingkat kebutuhan akan sampah, menggunakan kembali sampah-sampah yang telah ada dan mendaur ulang sampah yang telah terpakai. Sampah yang dapat di daur ulang seperti kertas dan plastik. Kita tidak harus mengubur atau membakar sampah kita.  Jika sampah plastik dikubur, tidak akan terurai selamanya. Dan jika dibakar akan menambah polusi udara. Maka dari itu kegiatan daur ulang perlu digalakkan lebih jauh.
b. Manfaat Tidak Langsung
Selain manfaat langsung pengolahan sampah juga memiliki manfaat tidak langsung. Manfaat tak langsung (lingkungan) adalah nilai kualitas lingkungan yang dihasilkan dengan adanya usaha tersebut. Lingkungan tempat pengolahan sampah akan jauh lebih sehat, indah, dan terhindar dari sumber penyakit. Lingkungan tersebut cocok sekali untuk menanam tanaman produktif seperti tanaman mangga, pisang, cabai, dan lain-lain. Nantinya tanaman-tanaman itu akan menghasilkan buah yang dapat dinikmati warga di lingkungan sekitar.

c. Meningkatkan Ekonomi
Sampah yang diolah atau di daur ulang dapat menjadi satu di antara sumber pendapatan. Pada saat sekarang ini permasalahan sampah selalu menjadi “momok” hampir di seluruh kota yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan secara infrastruktur dan manajemen, sampah belum ditangani sesuai dengan konsep dari pembangunan yang berkelanjutan. Permasalahan sampah kota membuat lingkungan menjadi kumuh. Lingkungan kumuh dapat menyebabkan masyarakat mudah terserang wabah penyakit. Hingga sekarang pemerintah belum sepenuhnya menangani permasalahan sampah dengan baik.  Permasalahan sampah yang volumenya menumpuk setiap tahunnya disebabkan  oleh pertambahan penduduk yang pesat. Jumlah penduduk yang pesat dapat mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Volume sampah banyak diproduksi dari kegiatan masyarakat. Pola konsumsi masyarakat memberikan kontribusi negatif yang berdampak terhadap kesemrautan permasalahan sampah.
Permasalahan sampah akan teratasi jika partisipasi masyarakat lebih peka terhadap pengelohan sampah. “pengolahan sampah anorganik, dapat memanfaatkan sampah yang tidak berguna menjadi berguna dan benilai ekonomi tinggi, sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Dengan adanya pengolahan sampah di tingkat keluarga, akan membantu mengurangi kejenuhan dirumah dengan mengunakan waktu luang mereka untuk mengelola daur ulang sampah. Selain itu untuk keluarga yang menganggur akan mendapat pekerjaan yang menghasilkan uang yaitu dari pengolahan sampah. Hasil dari olahan sampah bisa dijual dengan harga yang relative sesuai dengan tingkat kerumitannya. Penjualan dari hasil pengolahan sampah dapat meningkatkan penghasilan.
Pengolahan sampah selain dapat meningkatkan penghasilan juga membantu pelestarian lingkungan. Kelestarian lingkungan dapat menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan. Lingkungan yang bersih akan menjadikan pikiran-pikiran masyarakat lebih tenang. Selain berpengaruh terhadap psikis, masyarakat juga memperoleh banyak dampak positifnya terutama terhadap kesehatan mereka.
Pengelolaan sampah yang baik, akan memberikan manfaat kesehatan dan ekologi, di samping juga manfaat ekonomi. Adanya bantuan pelatihan membantu warga untuk mensukseskan pengolahan sampah, menghasilkan karya-karya yang bernilai ekonomi dan kreativ. Melalui pelatihan tersebut, warga dapat meningkatkan kerja dalam pengolaan sampah rumah tangga. Selain itu, pelatihan juga dapat mengubah tindakan dan persepsi tentang sampah yang tidak berguna.
Kami berharap peserta pelatihan mampu meningkatkan kemampuannya dalam mengolah limbah rumah tangga untuk menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Dengan demikian, dapat menciptakan lingkungan yang bersih, aman, lestari, dan indah. Peningkatan ekonomi warga didapatkan dari pemilahan sampah kering dan basah. Maka dari pemilahan sampah yang sudah didaur ulang, siap untuk dijual. Frekuensi penjualan/pengambilan sampah tidak tentu, sesuai dengan kesiapan barang yang terkumpul.
2.9  PRODUK YANG DIHASILKAN DARI SAMPAH
1.  Kerajinan
·         Barang seni seperti vas bunga, lukisan, miniatur dan patung, tempat tissue, tong sampah, payung, dll.
·         Fashion seperti tas, sandal, jas hujan, perhiasan, dompet dan lain-lain.
Bahan baku yang cocok digunakan adalah barang-barang bekas dari bahan plastik, logam, dan kertas sehingga mudah untuk diolah. Bahan baku diambil dari tempat penampungan barang bekas di tiap daerah atau bisa juga didapat dari penjual barang bekas apabila stok bahan baku mengalami kekurangan.
2.  Pupuk kompos
Pupuk kompos merupakan pilihan utama dalam pengolahan sampah organik. Pupuk kompos ini memanfaatkan sampah makhluk hidup seperti dedaunan, batang pohon dan lain-lain sebagai bahan baku. Dalam skala rumah tangga, industri kompos ini sangat potensial untuk dikembangkan karena sistem pengolahannya cukup sederhana. Industri ini cocok diterapkan untuk rumah tangga yang mempunyai lahan yang ditumbuhi tanaman dan lahan kosong berupa tanah yang dapat dibuat lubang untuk tempat pemrosesan sampah menjadi kompos. Apabila tidak mempunyai lahan yang cukup, pemrosesan bahan baku dapat dilakukan di dalam kotak yang bisa diatur aerasinya. Kebutuhan bahan baku juga bisa didapat dari hasil sampah dedaunan warga sekitar.
Agar kompos yang dihasilkan berkualitas baik perlu dilakukan fermentasi menggunakan bakteri. Bakteri ini bisa didapatkan di pasaran. Untuk menekan biaya penggunaan bakteri, ada alternatif lain yaitu dengan membuat sendiri. Bakteri ini akan tumbuh di medium yang sesuai. Seperti yang membuat sendiri bakteri dengan menciptakan medium yang cocok untuk bakteri seperti air yang dicampur dengan tapai dan gula, air kencing kelinci, dan air rendaman gedebok. Air campuran bakteri ini cukup dituangkan pada lubang yang telah berisi sampah dedaunan kemudian bakteri  dalam lingkungan anaerob akan menguraikan sampah tersebut menjadi pupuk setelah kira-kira membutuhkan waktu selama tiga bulan. Waktu tiga bulan ini sangat lama untuk sebuah industri yang komersial. Untuk mempercepat produksi dapat dilakukan dengan menggunakan wadah atau kotak yang besar yang diletakkan di atas tanah. Sampah yang dihasilkan dalam waktu yang berbeda ditempatkan dalam wadah menurut ketinggian dalam wadah tersebut. Secara otomatis, sampah yang sudah berumur tua terletak di bagian paling bawah. Oleh karena itu, di bagian bawah wadah tersebut di buat pintu yang digunakan untuk mengambil sampah yang sudah menjadi kompos. Waktu pengambilan produk kompos sesuai dengan rentang waktu pemasukan sampah daun. Jumlah produk yang dihasilkan bergantung pada kapasitas wadah yang digunakan. Wadah yang digunakan harus tertutup sehingga tidak ada kontak antara sampah yang sedang difermentasi dengan udara. Hal ini dikarenakan bakteri yang dipakai untuk memfermentasi sampah adalah bakteri anaerob sehingga kerja bakteri akan optimal pada kondisi yang minim udara.
Kompos yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk keperluan sendiri maupun untuk tujuan komersial. Apabila kompos ini dikomersialkan, perlu proses lebih lanjut agar kualitas pupuk yang dihasilkan bisa bersaing dengan pupuk yang ada di pasaran. Proses tersebut adalah penyaringan. Pupuk yang telah dipanen dari wadah pemrosesan disaring menggunakan ayak. Tujuan penyaringan ini adalah untuk memisahkan kompos dengan sampah-sampah daun yang belum terurai sehingga didapatkan kompos yang bertekstur halus menyerupai tanah. Tekstur ini diperlukan untuk menjaga kepadatan tanah sehingga akar tanaman bisa melekat dengan kuat dan tidak mudah tumbang.
3. Reuse (Memanfaatkan Kembali Barang Bekas dengan Memodifikasi)
Industri ini memanfaatkan barang bekas atau sampah yang bisa diproses menjadi produk yang sama dengan barang bekas atau sampah tersebut seperti kertas dan plastik. Produk yang dihasilkan harus sama persis dengan produk semula sehingga dapat digunakan kembali sesuai fungsinya. Pemilihan bahan baku ini didasarkan pada kapasitas mesin yang digunakan. Untuk barang logam, dalam pemrosesannya membutuhkan mesin yang besar sehingga tidak cocok diterapkan untuk skala rumah tangga. Metode pemrosesan meliputi pengumpulan bahan baku, pemilahan bahan sesuai jenis sampah berdasarkan komposisi kimia bahan dan pengolahan. Untuk skala rumah tangga pengumpulan bahan baku dapat dilakukan dengan cara yang sama dengan cara yang diterapkan pada industri kerajinan, hanya saja bahan logam tidak digunakan sebagai bahan baku.


BAB III
LANGKAH DALAM PENCAPAIAN TUJUAN

3.1 STRATEGI YANG KONGKRIT DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
Meski merupakan hal yang relatif mudah (tetapi mendorong), analisis dan riset diperlukan dalam menerjemahkan pernyataan misi organisasi pengusaha ke dalam sebuah strategi. Organisasi-organisasi pengusaha di negara maju dan berkembang menunjukan bahwa kinerja organisasi-organisasi pengusaha di negara-negara maju ternyata lebih baik. Meskipun demikian, kurang dari 50% organisasi-organisasi tersebut memiliki strategi bisnis, dan hanya sepertiganya memiliki tujuan tertulis berdasarkan strategi yang dimilikinya.
Proses yang akan digunakan dalam pencapaian tujuan ada beberapa pilihan yang direkomendasikan oleh sejumlah penulis atau konsultan bisnis. Anda dapat memutuskan sendiri atau mengikuti saran tersebut. Kerangka yang disarankan dalam panduan ini relative sederhana tetapi efektif. Proses ini umumnya dimulai dari penyusunan pernyataan misi dan menggunakannya sebagai dasar untuk menulis dan menyetujui rencana bisnis, berdasarkan kajian atas kebutuhan anggota, analisis kompetisi dan analisis SWOT (strength, weaknesess, Opportunity, Threat) –Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancamanbaik secara internal maupun eksternal. Berikutnya, Rencana strategis diubah menjadi tujuan-tujuan dan rencana-rencana kerja. Akhirnya, sebuah proses disusun untuk mengkaji kemajuan yang ada.



Menurut analisis SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunity, Threat) dalam pengolahan sampah :
1.  Strength (Kekuatan)
·      Sistem pengelolaan sampah terpadu dimulai dari pewadahan, pengangkutan, prmilahan, pengomposan, pengolahan/daur ulang, sampai PLTS.
·      Networking yang sudah terjalin dengan berbagai organisasi atau perusahaan pengelola sampah.
·      Recycling center sebagai tempat penukaran barang bekas juga menjual aneka produk dan jasa.
·      Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk operasional mesin produksi.
·      Sistem pengomposan yang cepat jadi
·      Perubahan image pemulung
·      Pendidikan kesehatan dan motivasi bagi pemulung
·      Lingkungan yang menjadi bersih dan indah.
2.  Weaknesess (Kelemahan)
·      Kurang modal
Kekurangan modal dapat diatasi dengan meminjam modal dari kerabat, angel investor, atau bank.
·      Belum mempunyai pengalaman sebelumnya
Hal ini telah di atasi dengan cara membentuk tim ahli dan bekerjasama dengan banyak orang yang telah berpengalaman dalam bidang pengolahan sampah.
3.  Opportunities (Peluang)
·      Volume dan ragam sampah yang semakin hari semakin banyak
·      Harga barang bekas yang semakin mahal
·      Harga pupuk urea yang semakin mahal dibandingkan pupuk kompos
·      Harapan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik
·      Masyarakat menginginkan pekerja sampah dengan image dan attitude yang baik
4.  Threats (Ancaman)
·      Masyarakat belum sadar dan paham akan kegunaan recycle center. Oleh karena itu perlu di lakukan tindakan berikut :
1.    Menggencarkan branding serta pemasaran above dan below the line sehingga mereka akan aware.
2.    Memberikan pengertian kepada mereka akan keuntungan yang dapat mereka peroleh apabila mereka bekerja sama dengan kita.
3.    Membangun image perusahaan
·      Produksi sampah yang bisa di daur ulang ternyata tidak memenuhi target karena di ambil pemulung lepas. Untuk menyiasati hal tersebut, perlu dilakukan hal berikut :
1.    Melakukan pendekatan langsung dengan pemilik rumah atau wakil kompleks supaya mereka hanya memberikan sampah pada kita.
2.    Memberikan pengawasan yang lebih terhadap sampah-samaph tersebut.

3.2 TAHAPAN DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
Pemerintah melakukan sosialisasi implementasi untuk menyuarakan program pengelolaan sampah rumah tangga, agar pengelolaan sampah rumah tangga menjadi kegiatan masyarakat. Dalam hal ini pemerintah dapat bekerja sama dengan stakeholder.
o    Bersama stakeholder, membentuk organisasi kepengurusan dan program kerja.
o    Pemerintah menfasilitasi kegiatan sosialisasi implementasi yang dilakukan oleh pengelola, dalam hal ini pengelola dapat bekerja sama dengan stakholder.
o    Bersama dengan stakeholder, pengelola memberikan arahan kepada
o    masyarakat agar mereka mampu dan dapat mengelola sampahnya dengan benar.
o    Masyarakat melakukan pemilahan sampah ditingkat sumber timbulan, dan sesuai dengan mekanisme yang sudah ditentukan oleh pengelola.
o    Masyarakat melakukan pengomposan dari sampah organik yang berasal dari rumah tangga, dan melakukan pemilahan sampah anorganik untuk dijadikan barang yang bermanfaat.
                          
3.3 HAMBATAN DALAM PENCAPAIAN TUJUAN
  1. Peningkatan jumlah sampah di perkotaan yang sangat cepat/eksponensial seiring dengan cepatnya pertambahan jumlah penduduk serta disebabkan oleh pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan.
  2. Publik, yaitu masyarakat, dunia usaha dan juga pemerintah yang relative masih rendah tingkat kesadaran dan pengetahuannya dalam mengelola sampah.
  3. Permasalahan tempat pengolahan atau pembuangan sampah yang selain terbatas juga menimbulkan kerawanan social serta berdampak terhadap nilai dan fungsi lingkungan hidup.
  4. Pendekatan pengelolaan yang cenderung masih mengedepankan end of pipe (kumpul-angkut-buang)


BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Sampai sekarang, pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: kumpul–angkut–buang. Source reduction (reduksi mulai dari sumbernya) atau pemilahan sampah tidak pernah berjalan dengan baik. Meskipun telah ada upaya pengomposan dan daur ulang, tapi masih terbatas dan tidak sustainable. Pembakaran sampah dengan insinerator pun dianggap hanya memindahkan masalah ke pencemaran udara. Regulasi pengelolaan sampah pun masih diatur secara parsial dan sektoral, belum adanya Undang – undang yang dipahami secara integral yaitu keterkaitannya dengan aspek lain seperti tata ruang, sosial politik, kesehatan, kemiskinan, peluang usaha , investasi, ketenagakerjaan, teknologi dan lingkungan hidup.
Adanya sampah merupakan suatu konsekuensi dari aktifitas manusia, setiap aktifitas manusia pasti akan menyebabkan buangan atau sampah. Jumlah volume sampah akan berimbang dengan tingkat konsumsi kita terhadap material yang digunakan sehari hari. Demikian pula dengan jenis sampah sangat tergantung dengan material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pengelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari pengelolaan gaya hidup masyarakat.
Sistem pengelolaan sampah terpadu adalah sebuah sistem yang menerapkan prinsip dasar dari sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System / EMS) akan dapat berjalan dengan baik jika mampu mengoptimalkan beberapa hal seperti : Keterlibatan (stakeholders), Kesetaraan dan Kemitraan (Equal Partnership), Transparansi (Transparency), Kesetaraan Kewenangan (Sharing Power / Equal Powership), Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility), Pemberdayaan (Empowerment) dan Kerjasama (Cooperation).


DAFTAR PUSTAKA


3 komentar:

  1. tulisan mbak berliana sangat berguna buat saya. terima kasih ya..

    BalasHapus
  2. bagus sekali nih, bisa kurangin kuota sampah negara nih...

    http://landongobatherbal.com/obat-herbal-penyakit-migren/

    BalasHapus